Sabtu, 30 April 2011

16 MENGAPA ANGGAPAN “DI MASA DEPAN KEBENARAN TEORI EVOLUSI AKAN TERBUKI” ADALAH SALAH?

Ketika mereka sudah tersudut, ada di antara para pendukung teori evolusi yang mengandalkan kata-kata: “Bahkan kalau pun penemuan ilmiah masa kini tidak menegaskan kebenaran evolusi, teori ini akan terbukti dengan perkembangan ilmu yang terjadi di masa yang akan datang.”

Ini adalah titik awal pengakuan kekalahan kaum evolusionis di arena ilmiah. Bila kita membaca yang tersirat, maka kita akan mendapatkan: “Ya, kami, para pendukung evolusi, mengakui bahwa berbagai penemuan di bidang ilmiah tidak mendukung teori kami. Oleh sebab itulah, tidak ada alternatif lain bagi kami selain menunda perihal ini ke masa depan.”

Akan tetapi, ilmu pengetahuan tidak bekerja dengan cara berpikir seperti demikian. Seorang ilmuwan seharusnya tidak lebih dahulu meyakini sebuah teori secara buta, sambil berharap, suatu saat nanti, bukti atas kebenaran teori itu akan muncul. Ilmu pengetahuan memeriksa semua bukti yang ada, lalu menyimpulkannya. Karena itu, para ilmuwan seharusnya menerima adanya fakta “rancangan”, atau dengan kata lain fakta penciptaan, yang telah dibuktikan secara ilmiah.

Akan tetapi, propaganda dan bujukan evolusionis masih mampu mempengaruhi orang, terutama yang tidak begitu paham tentang teori ini. Oleh sebab itu, ada baiknya bila ketiga pertanyaan berikut ini dijawab secara lengkap dan jelas:

Kita dapat menguji keabsahan teori evolusi dengan tiga pertanyaan dasar:

1. Bagaimana sel hidup pertama muncul?

2. Bagaimana satu spesies dapat berubah menjadi spesies lain?

3. Adakah bukti dalam catatan fosil bahwa makhluk hidup memang melalui proses seperti itu?

Sejumlah besar penelitian selama abad ke-20, telah dilakukan untuk menjawab ketiga pertanyaan di atas - pertanyaan yang harus dijawab oleh teori evolusi. Akan tetapi, penelitian-penelitian tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa teori evolusi tidak dapat menjelaskan tentang kehidupan. Ini terlihat jelas dalam pembahasan yang lebih mendalam dari ketiga pertanyaan di atas:

1. Pertanyaan tentang munculnya “sel pertama” adalah persoalan sulit yang paling mematikan bagi pendukung teori evolusi. Hasil berbagai penelitian yang berkenaan dengan hal ini menunjukkan bahwa kemunculan sel pertama tidak dapat dijelaskan oleh konsep “kebetulan”. Fred Hoyle menyatakan hal itu sebagai berikut:

Peluang munculnya makhluk hidup dengan cara ini adalah sebanding dengan peluang angin tornado yang menyapu lahan penimbunan barang-barang bekas dan kemudian merakit sebuah pesawat Boeing 747 dari bahan-bahan yang ada di dalamnya. 63

Berikut ini adalah sebuah contoh untuk melihat kontradiksi pada kaum evolusionis. Ingatlah contoh terkenal dari William Paley, dan bayangkanlah seseorang yang seumur hidupnya belum pernah melihat jam dinding. Orang itu hidup di pulau terpencil, dan suatu hari menemukan sebuah jam dinding. Bagi orang yang belum pernah melihat sebuah jam dinding dari jarak 100 meter, dia tidak bisa menentukan apa benda tersebut sebenarnya, dan mungkin tidak bisa membedakannya dari fenomena alam lain yang disebabkan oleh angin, pasir dan tanah. Namun ketika orang tersebut semakin dekat, hanya dengan melihatnya, dia akan menyadari bahwa jam itu adalah hasil suatu rancangan. Ketika lebih dekat lagi, dia tidak akan ragu sedikit pun. Tahap berikutnya, mungkin dia memeriksa berbagai bagian dari jam tersebut, dan juga sentuhan seni yang tampak jelas padanya. Ketika dia membuka tutup mesin jam dan mencermatinya, dia akan melihat bahwa di dalam jam tersebut terdapat akumulasi pengetahuan yang lebih besar, dibandingkan dengan apa yang terlihat dari luar. Benda ini adalah hasil kecerdasan. Setiap langkah penelitian selanjutnya akan menjadikan analisis ini semakin pasti.

Sebagaimana paparan di atas, kebenaran tentang makhluk hidup muncul ke permukaan seiring dengan ilmu pengetahuan yang semakin maju. Kemajuan ilmiah telah mengungkapkan kesempurnaan makhluk hidup, baik di tingkat sistem, organ, jaringan, sel, maupun di tingkat molekul. Dengan semakin mendalamnya pengetahuan kita tentang semua hal tersebut, kita mampu melihat dengan lebih jelas sisi yang menakjubkan dari rancangan-rancangan yang ada. Evolusionis abad ke-19, yang beranggapan bahwa sel adalah suatu gumpalan mungil karbon, berada pada situasi yang sama dengan orang yang melihat jam dinding dari jarak 100 meter seperti dalam cerita di atas. Tapi di masa kini, sangatlah sulit untuk menemukan satu pun ilmuwan yang tidak mengakui bahwa masing-masing bagian dari sel adalah sebuah hasil karya dan seni serta rancangan yang sangat hebat. Bahkan pada membran dari sebuah sel yang kecil, yang memiliki sifat “penyaring selektif”, terdapat kecerdasan dan rancangan yang luar biasa. Membran tersebut mengenali berbagai atom, protein, dan molekul yang berada di sekelilingnya, seolah-olah memiliki pikirannya sendiri. Membran hanya akan membiarkan partikel-partikel yang dibutuhkan masuk ke dalam sel. (Untuk lebih jauh lagi, bacalah karya Harun Yahya, Consciousness in the Cell). Tidak seperti jam dinding tadi (yang kecerdasan rancangannya masih terbatas), organisme hidup adalah bukti kecerdasan dan rancangan yang menakjubkan. Penelitian-penelitian atas struktur makhluk hidup yang semakin mendalam dan luas ini, yang sejauh ini baru saja mengungkapkan sebagian kecil dari rancang-bangun dan fungsinya, bukanlah membuktikan evolusi, melainkan memungkinkan kita untuk memahami kebenaran penciptaan dengan lebih baik.

2. Kaum evolusionis berpendapat, bahwa satu spesies dapat berubah menjadi spesies lain, melalui mutasi dan seleksi alam. Seluruh penelitian yang telah dilakukan dan berkaitan dengan masalah ini, menunjukkan bahwa kedua mekanisme tidak memiliki pengaruh evolusioner yang demikian. Colin Patterson, seorang ahli paleontologi senior Museum Natural History di London, menekankan fakta ini sebagai berikut :

Tak ada yang pernah menghasilkan satu spesies melalui mekanisme seleksi alam. Tidak seorang pun hampir pernah menghasilkannya, dan kebanyakan debat neo-Darwinisme sekarang adalah seputar masalah ini.64

Penelitian tentang mutasi menunjukkan bahwa proses tersebut tidak bersifat evolusioner. Ahli genetika dari Amerika, B. G. Ranganathan, berkata:

Pertama, mutasi sejati amat jarang terjadi di alam ini. Kedua, kebanyakan mutasi adalah berbahaya, karena perubahan struktur gen terjadi secara acak, bukan teratur. Perubahan acak apa pun pada sistem dengan tingkat keteraturan tinggi akan merusak, bukan memperbaiki. Contohnya, bila gempa bumi mengguncangkan sebuah struktur yang teratur, misalnya sebuah gedung, akan terjadi perubahan acak dalam kerangka bangunan tersebut yang, dalam segala kemungkinan, tidak akan memunculkan perbaikan.65

Seperti yang telah kita saksikan, apa yang disebutkan dalam teori evolusi sebagai mekanisme pembentuk spesies baru, sebenarnya sama sekali tidak berdampak dan justru merusak. Sekarang, kita memahami bahwa kedua mekanisme ini – yang diajukan di saat ilmu dan teknologi belum mencapai tingkat yang cukup tinggi untuk membuktikan ketidakabsahan pendapat yang hanya merupakan khayal ini – tidak memiliki pengaruh perkembangan maupun evolusi.

3. Fosil juga menunjukkan bahwa makhluk hidup tidaklah muncul sebagai akibat proses evolusi. Makhluk hidup muncul secara tiba-tiba, sebagai hasil “rancangan” yang sempurna. Semua fosil yang telah ditemukan menegaskan hal ini. Niles Eldredge, ahli paleontologi dari Universitas Harvard dan pengawas di American Museum of Natural History menjelaskan bahwa tak mungkin fosil yang dapat ditemukan di masa depan akan dapat mengubah keadaan ini:

Catatan fosil meloncat-loncat, dan semua bukti yang ada menunjukkan bahwa catatan itu benar adanya: celah-celah yang kita lihat menunjukkan kejadian sebenarnya dalam sejarah makhluk hidup – bukan artefak catatan fosil yang tidak lengkap. 66

Robert Wesson, seorang pakar asal Amerika lain, menyatakan dalam bukunya Beyond Natural Selection di tahun 1991, bahwa “celah-celah dalam catatan fosil adalah nyata dan luar biasa”. Ia menjelaskan pernyataannya sebagai berikut:

Celah-celah dalam catatan fosil itu memang sungguhan. Ketiadaan catatan akan percabangan yang penting sungguh luar biasa. Spesies-spesies biasanya terdapat dalam keadaan tetap, atau nyaris tetap, untuk jangka waktu yang lama; jarang terlihat adanya evolusi suatu spesies menjadi spesies yang baru, atau tidak pernah terlihat adanya evolusi suatu genus menjadi genus yang baru.

Yang ada adalah pergantian satu oleh yang lain, dan perubahan bisa dikatakan berlangsung mendadak. 67

Kesimpulannya, setelah sekitar 150 tahun berlalu sejak pertama kalinya teori evolusi diusulkan, sejak itu pula penemuan-penemuan di bidang ilmiah selalu menunjukkan bukti-bukti yang menentangnya. Semakin diteliti, semakin banyak bukti yang menunjukkan penciptaan yang sempurna, dan kian dipahami bahwa kemunculan makhluk hidup dan variasinya akibat faktor kebetulan adalah mustahil. Setiap penelitian mengungkapkan bukti baru akan adanya rancangan pada makhluk hidup, sehingga fakta penciptaan semakin jelas. Sejak masa Darwin, setiap dasawarsa yang berlalu kian mengungkapkan ketidakabsahan teori evolusi.

Singkatnya, kemajuan ilmiah tidak mendukung teori evolusi. Oleh sebab itu, perkembangan di masa depan juga tak akan mendukung, malah akan semakin memperjelas ketidakabsahan teori ini.

Tidak benar apabila dikatakan bahwa evolusi adalah sesuatu yang belum bisa dijawab atau diterangkan oleh ilmu pengetahuan. Juga tidak benar bahwa evolusi bisa dibuktikan di masa yang akan datang. Ilmu pengetahuan modern telah menyangkal teori evolusi di segala bidang, dan menunjukkan bahwa dari sudut pandang mana pun, proses evolusi mustahil terjadi. Adanya upaya untuk mempertahankan kepercayaan ini dengan mengatakan bahwa evolusi akan dibuktikan di masa depan, merupakan hasil dari pola pikir khayal dan mimpi kaum Marxist dan lingkungan materialis yang melihat evolusi sebagai penyokong ideologi mereka. Mereka, dengan demikian, hanyalah mencoba menghibur diri dari rasa putus asa.

Karena itu, gagasan bahwa “evolusi akan terbukti di masa depan” tak berbeda dengan berkata “di masa depan akan terbukti bahwa Bumi terletak di punggung seekor gajah”.


15 MENGAPA BERPIKIR BAHWA TUHAN MENCIPTAKAN MAKHLUK HIDUP MELALUI PROSES EVOLUSI ADALAH SALAH?

Secara ilmiah telah dibuktikan bahwa rancangan menakjubkan yang tampak di seluruh makhluk hidup dan benda mati di alam semesta ini tidaklah mungkin muncul menjadi ada akibat kekuatan alamiah buta dan ketidaksengajaan. Meskipun demikian, sebagian orang menyatakan, memang benar bahwa terdapat sang Pencipta, tetapi Dia menciptakan kehidupan melalui proses evolusi.

Sudah sangat jelas bahwa Tuhan Yang Mahakuasa telah mencipta seluruh alam semesta dan makhluk hidup. Adalah keputusanNya untuk mencipta secara seketika ataupun bertahap. Kita hanya dapat memahami kejadiannya melalui informasi yang Tuhan berikan kepada kita (dengan kata lain, melalui ayat Al Qur’an), serta melalui bukti ilmiah yang tampak jelas di alam ini.

Jika mencermati kedua sumber tersebut, kita tidak menyaksikan adanya peristiwa “penciptaan melalui evolusi”.

Tuhan telah menurunkan berbagai ayat dalam Al Qur’an yang membahas tentang penciptaan manusia, kehidupan, dan alam semesta. Tak satu pun di antara ayat tersebut yang berisi keterangan tentang penciptaan melalui evolusi. Dengan kata lain, tak satu pun ayat yang berkata bahwa makhluk hidup tercipta akibat proses evolusi dari satu makhluk menjadi makhluk lain. Sebaliknya, diungkapkan dalam ayat-ayat itu, bahwa kehidupan dan jagat raya ini tercipta melalui perintah Tuhan: “Jadilah!”

Penemuan ilmiah pun telah memperlihatkan bahwa penciptaan melalui proses evolusi adalah mustahil. Catatan fosil menunjukkan bahwa beraneka ragam spesies muncul bukan melalui evolusi satu dari yang lainnya, melainkan secara terpisah, secara tiba-tiba, serta dilengkapi dengan seluruh struktur mereka masing-masing yang khas. Dengan kata lain, penciptaan bagi setiap spesies adalah berbeda.

Jika terdapat sesuatu seperti “penciptaan melalui evolusi”, kita sudah seharusnya dapat melihat buktinya saat ini. Tuhan telah menciptakan segala sesuatu menurut peraturan tertentu, di dalam kerangka hukum sebab-akibat. Misalnya, sudah pasti Tuhan yang menjadikan kapal dapat terapung di air. Akan tetapi, apabila kita mempelajari penyebabnya, kita akan memahami bahwa penyebabnya adalah diciptakannya pada air kekuatan yang menopang kapal. Tidak ada sesuatu pun kecuali kekuatan Tuhan yang memungkinkan burung dapat terbang. Akan tetapi, bila kita mempelajari bagaimana ini terjadi, kita akan menemukan adanya hukum aerodinamika. Oleh sebab itulah, jika makhluk hidup memang diciptakan melalui proses bertahap, maka seharusnya terdapat sistem yang dilengkapi hukum-hukum dan kemajuan-kemajuan di bidang genetika, yang dapat menjelaskan peristiwa tersebut. Lebih lanjut, kita akan mengenal adanya hukum biologi, kimia dan fisika yang lain. Akan terdapat bukti dari penelitian laboratorium yang menunjukkan bahwa satu makhluk hidup dapat berubah menjadi makhluk lain. Selain itu, dari berbagai riset tersebut, dimungkinkan pengembangan enzim, hormon, dan molekul sejenis yang tak dimiliki suatu spesies, agar spesies tersebut dapat memanfaatkannya. Tambahan lagi, kemajuan tersebut akan memungkinkan diciptakannya berbagai struktur dan organel baru yang belum pernah dimiliki spesies itu.

Kajian-kajian laboratorium akan mampu menunjukkan contoh-contoh makhluk yang telah melalui proses mutasi, serta memperoleh manfaat dari proses tersebut. Kita juga akan mampu melihat mutasi itu diwariskan kepada generasi berikutnya, serta benar-benar menjadi bagian dari spesies. Selain itu pula, akan terdapat jutaan fosil makhluk peralihan dari masa silam, dan di masa kini akan ada makhluk hidup yang tahapan transisinya belum selesai. Pendek kata, seharusnya terdapat berbagai contoh proses seperti ini, yang tak terhitung banyaknya.

Akan tetapi, tak ada satu pun bukti bahwa satu spesies dapat melakukan perubahan menjadi spesies lainnya. Seperti telah kita lihat, data fosil menunjukkan bahwa semua spesies makhluk hidup muncul secara tiba-tiba tanpa nenek moyang. Fakta ini, selain menghancurkan teori evolusi (yang menyatakan kehidupan muncul berdasarkan peristiwa kebetulan), juga menunjukkan ketidakabsahan pendapat bahwa Tuhan menciptakan makhluk hidup, dan kemudian makhluk tersebut berubah melalui proses.

Tuhan menciptakan makhluk hidup secara supernatural, melalui satu perintah “Jadilah!” Ilmu pengetahuan modern menegaskan fakta ini, dan membuktikan bahwa makhluk hidup muncul secara tiba-tiba di Bumi.

Para pendukung gagasan “Mungkin saja Tuhan menciptakan makhluk hidup di Bumi melalui proses evolusi” sebenarnya sedang mencoba membangun “titik temu” antara penciptaan dan Darwinisme. Akan tetapi ini adalah suatu kesalahan yang mendasar. Mereka tidak menyadari dasar logika Darwinisme dan filsafat yang dijunjungnya. Darwinisme bukanlah terdiri atas gagasan perubahan spesies. Sebenarnya, Darwinisme adalah suatu upaya untuk menjelaskan asal-usul makhluk melalui penyebab-penyebab yang bersifat materi belaka. Dengan kata lain, Darwinisme berupaya agar masyarakat menerima pendapat bahwa makhluk hidup adalah hasil kerja alam, dan melapisi pendapat itu dengan polesan ilmiah. Tak mungkin ada “titik temu” atau “satu landasan pijak bersama” antara filsafat naturalistik (ajaran yang tidak mengakui adanya kekuatan lain selain alam) dengan keyakinan kepada Tuhan. Adalah salah apabila kita berusaha mencari titik temu seperti itu, bersikap menyerah kepada Darwinisme, dan menganggapnya sebagai teori ilmiah. Seperti tampak dari 150 tahun sejarah teori ini, Darwinisme adalah tulang punggung filsafat materialistis dan ateisme. Pencarian titik temu tidak akan pernah dapat mengubah fakta ini.


14 MENGAPA MENYANGKAL TEORI EVOLUSI DISAMAKAN DENGAN MENOLAK PERKEMBANGAN DAN KEMAJUAN?

Dalam catatan fosil, makhluk hidup membentuk untaian atau rantai. Bila kita perhatikan rantai ini dari makhluk paling purba sampai yang paling muda, tampaklah bahwa makhluk hidup muncul dalam bentuk mikroorganisme, hewan laut tak bertulang belakang (invertebrata), ikan, amfibi, reptil, unggas, dan mamalia. Pendukung teori evolusi membahas rantai ini dengan penuh praduga, sambil berupaya menyajikannya sebagai bukti teori evolusi. Mereka menyatakan bahwa makhluk hidup berkembang dari bentuk sederhana menuju bentuk yang lebih kompleks, dan selama proses ini berlangsung, beraneka ragam makhluk hidup pun tercipta. Misalnya, para evolusionis mengemukakan, fakta tidak ditemukannya fosil manusia pada pengkajian terhadap lapisan fosil berusia 300 juta tahun merupakan salah satu bukti kebenaran evolusi. Profesor Aykut Kence, seorang evolusionis Turki, berkata:

Anda ingin menggugurkan teori evolusi? Jika demikian, pergilah dan cari beberapa fosil manusia dari zaman Kambrium! Siapa pun yang berhasil menemukannya akan meruntuhkan teori evolusi, bahkan memenangkan hadiah Nobel atas penemuannya.56

Perkembangan makhluk hidup dari bentuk sederhana (primitif) ke bentuk rumit (kompleks) adalah pemikiran khayal

Mari kita bayangkan cara berpikir evolusionis yang terdapat dalam kata-kata Profesor Kence. Perkembangan makhluk hidup dari bentuk primitif ke bentuk kompleks adalah praduga evolusionis yang tak benar sedikit pun. Profesor biologi asal Amerika, Frank L. Marsh, yang mengkaji pernyataan kaum evolusionis, dalam bukunya Variation and Fixity in Nature menyatakan makhluk hidup tak dapat disusun dalam sebuah urutan yang senantiasa bersambung tanpa putus dari bentuk sederhana ke bentuk rumit.57

Dalam hal ini, pernyataan evolusionis sebenarnya dapat diruntuhkan oleh fakta kemunculan mendadak dari hampir seluruh filum hewan yang dikenal sekarang di Zaman Kambrium. Bahkan, semua hewan yang muncul secara tiba-tiba tersebut sudah memiliki struktur tubuh yang rumit, tidak sederhana – hal ini benar-benar berlawanan dengan asumsi evolusionis.

Trilobita yang termasuk filum Arthropoda, adalah makhluk sangat rumit dengan cangkang keras, memiliki tubuh yang bersendi, dan organ-organ kompleks.. Catatan fosil telah memungkinkan pengkajian yang sangat terperinci terhadap mata trilobita. Mata trilobita terdiri atas beratus-ratus faset kecil, yang masing-masing terdiri atas dua lapisan lensa. Struktur mata ini adalah keajaiban nyata perancangan. David Raup, profesor geologi di Universitas Harvard, Rochester, dan Chicago, berkata, “Trilobita yang hidup 450 juta tahun yang silam telah memiliki rancangan optimal yang di zaman kini memerlukan insinyur optik yang terlatih baik dan imajinatif untuk mengembangkannya.” 58

Sisi menarik lainnya di seputar bahasan ini adalah, lalat di zaman sekarang memiliki struktur mata yang serupa. Dengan kata lain, struktur demikian itu sudah ada selama 520 juta tahun terakhir ini.

Pemandangan luar biasa tentang Zaman Kambrium sangat sedikit diketahui di saat Darwin menulis The Origin of Species. Setelah masa Darwin, barulah orang tahu, bahwa menurut catatan fosil, makhluk hidup muncul dengan seketika di Zaman Kambrium, dan trilobita serta hewan invertebrata lain hadir di muka bumi secara bersamaan. Dalam bukunya, Darwin tak mampu membahas sepenuhnya mengenai hal ini. Namun, ia memang membahas sedikit tentang itu dalam bab berjudul “On the sudden appearance of groups of allied species in the lowest known fossiliferous strata“ (Timbulnya secara serentak kelompok-kelompok spesies yang saling terkait dalam lapisan fosil terendah yang diketahui), ia menulis di sini tentang Zaman Silur (di masa Darwin, zaman ini mencakup pula zaman yang kini kita sebut Kambrium):

Misalnya, saya tidak dapat meragukan bahwa semua trilobita zaman Silur merupakan keturunan yang berasal dari sejenis hewan krustasea (bangsa udang), yang tentunya telah hidup jauh sebelum Zaman Silur, dan mungkin jauh berbeda dari hewan mana pun yang telah dikenal … Karena itu, jika teori saya benar, tak pelak lagi bahwa jauh sebelum lapisan Silur paling bawah terbentuk, waktu yang amat panjang telah berlalu, mungkin sama atau jauh lebih panjang daripada selang waktu antara zaman Silur dengan masa kini; dan selama rentang masa yang sungguh panjang ini, namun belum banyak dikenal, dunia ini dipenuhi makhluk hidup. Saya tak mampu memberi jawaban yang memuaskan atas pertanyaan mengapa kita tidak menemukan bekas-bekas dari zaman purba yang sungguh panjang ini.59

Darwin berkata, “Jika teori saya benar, tak pelak lagi bahwa dunia ini dipenuhi makhluk hidup sebelum Zaman Silur.” Untuk menjawab pertanyaan, mengapa tidak terdapat fosil makhluk-makhluk itu, ia mencoba menjawab di sepanjang bukunya, dengan menggunakan alasan “catatan fosil yang sangat terbatas”. Tapi kini, catatan fosil sudah lengkap, dan menunjukkan bahwa makhluk Zaman Kambrium tak memiliki nenek moyang. Artinya, kita harus menolak kalimat Darwin yang diawali dengan “… jika teori saya benar”. Hipotesa Darwin tidak absah; karena itu, teorinya salah.

Makhluk hidup tidak berkembang dari bentuk sederhana ke bentuk yang kompleks. Pada saat pertama kali muncul, makhluk hidup sudah teramat kompleks. Contoh lain dari hal ini adalah ikan hiu, yang menurut catatan fosil sudah ada sejak sekitar 4000 juta tahun yang lalu. Hewan ini memiliki berbagai ciri istimewa yang tidak dimiliki hewan lain yang tercipta jutaan tahun setelahnya, misalnya pertumbuhan gigi (regenerasi) setelah gigi yang lama tanggal. Contoh lainnya adalah kemiripan yang mengejutkan antara mata mamalia dan gurita yang telah hidup di Bumi berjuta-juta tahun sebelum mamalia.

Contoh-contoh tersebut memperjelas bahwa spesies makhluk hidup tidak dapat disusun berurutan secara baik dari bentuk primitif ke bentuk kompleks.

Fakta itu juga ditampilkan oleh hasil penelitian terhadap segi bentuk, fungsi, dan genetika makhluk hidup. Misalnya, bila kita cermati catatan fosil pada tingkat terendah, dilihat dari segi bentuk dan ukuran, tampak bahwa banyak makhluk (misalnya dinosaurus) yang berukuran jauh lebih besar daripada yang muncul kemudian.

Demikian juga bila kita cermati dari segi fungsional makhluk hidup. Pada perkembangan struktur, telinga adalah contoh yang meruntuhkan pendapat “makhluk hidup berkembang dari bentuk primitif menuju kompleks”. Hewan amfibi memiliki rongga telinga-tengah. Akan tetapi reptil, yang muncul sesudah amfibi, mempunyai sistem yang jauh lebih sederhana. Pada reptil, sistem ini berdasarkan satu tulang kecil saja, tanpa ruang telinga-tengah.

Kajian genetika menunjukkan hasil serupa. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa jumlah kromosom tak ada kaitannya dengan kompleksitas tubuh hewan. Misalnya, manusia memiliki 46 buah kromosom, kopepoda memiliki 6 buah, dan radiolaria (hewan yang berukuran mikroskopis) memiliki tepat 800 buah.

Makhluk hidup diciptakan pada saat yang

paling “sesuai” baginya

Penelitian catatan fosil sesungguhnya menunjukkan, makhluk hidup muncul di masa yang paling cocok baginya. Tuhan telah menciptakan makhluk hidup secara luar biasa. Makhluk hidup diciptakan tepat sesuai dengan keadaan yang akan dihadapinya saat muncul di Bumi.

Mari kita lihat contoh berikut ini: Bumi di kala fosil bakteri tertua muncul, yakni sekitar 3,5 miliar tahun yang silam. Kondisi suhu dan atmosfer waktu itu sama sekali tidak cocok untuk mendukung kehidupan makhluk berstruktur kompleks ataupun manusia. Demikian juga zaman Kambrium, yang menurut Kence, apabila ditemukan fosil manusia pada masa itu, teori evolusi akan runtuh. Periode ini, sekitar 530 juta tahun silam, benar-benar tak cocok bagi manusia. (Saat itu tak ada hewan di darat).

Keadaan serupa juga tampak pada hampir seluruh zaman sesudahnya. Penelitian catatan fosil menunjukkan bahwa kondisi yang dapat mendukung kehidupan manusia baru tercapai beberapa juta tahun yang silam. Hal yang sama ini berlaku pula pada seluruh makhluk hidup lainnya. Setiap kelompok makhluk hidup muncul apabila kondisi yang mendukung bagi kehidupannya telah tercapai, dengan kata lain, “bila waktunya sudah tepat”.

Kaum evolusionis menentang fakta ini sekuat tenaga. Mereka mengatakan bahwa kondisi pendukung itu sendirilah yang telah memunculkan makhluk hidup. Padahal, terciptanya “kondisi pendukung” hanyalah tanda bahwa “saat yang tepat telah tiba”. Makhluk hidup hanya dapat muncul melalui sebuah campur tangan yang memiliki kesadaran – dengan kata lain, melalui penciptaan oleh kekuatan hebat di luar alam.

Karena itu, munculnya makhluk hidup secara bertahap bukanlah bukti evolusi, melainkan bukti kebijaksanaan dan pengetahuan Tuhan yang tak terhingga, Yang menciptakan makhluk hidup. Setiap kelompok makhluk hidup diciptakan untuk menyiapkan kondisi yang sesuai bagi kemunculan kelompok makhluk hidup berikutnya. Dan bagi kita, keseimbangan ekologis dengan seluruh makhluk hidup disiapkan terlebih dahulu dalam rentang waktu yang cukup panjang.

Di lain pihak, kita harus ingat bahwa periode panjang itu hanya dirasakan “panjang” oleh kita. Bagi Tuhan, itu hanyalah “sesaat” saja. Konsep waktu hanya berlaku bagi makhluk, bukan Pencipta. Tuhan, Pencipta waktu itu sendiri, tidaklah terikat oleh waktu. (Lihat lebih jauh dalam buku Harun Yahya: Timelessness and the Reality of Fate)

Jika kaum evolusionis hendak menunjukkan bahwa satu spesies berubah menjadi spesies lain, tak ada gunanya berkata bahwa makhluk hidup muncul di Bumi selangkah demi selangkah. Bukti yang harus mereka kemukakan adalah fosil makhluk peralihan yang menghubungkan antarspesies makhluk hidup yang berbeda ini. Teori yang menyatakan bahwa invertebrata berubah menjadi ikan, ikan menjadi reptil, reptil menjadi burung dan mamalia, harus didukung fosil sebagai buktinya. Darwin sadar akan hal itu dan menuliskan bahwa fosil semacam ini harus ditemukan dalam jumlah tak terhitung banyaknya, walaupun sejauh ini tidak pernah ditemukan satu pun. Selama 150 tahun setelah teori Darwin diajukan, fosil makhluk peralihan belum pernah ditemukan. Seperti yang diakui oleh Derek W. Ager, seorang evolusionis ahli paleontologi, catatan fosil menunjukkan “bukan evolusi bertahap, melainkan sebuah ledakan tiba-tiba sekelompok makhluk hidup di atas kepunahan kelompok yang lain.”60

Sebagai kesimpulan, sejarah kehidupan menunjukkan bahwa makhluk hidup muncul bukan sebagai hasil peristiwa kebetulan, melainkan diciptakan tahap demi tahap, dalam periode yang amat panjang. Ini amat sesuai dengan keterangan tentang penciptaan dalam Al Qur’an, yang di dalamnya Tuhan berfirman bahwa Dia menciptakan alam semesta dan semua makhluk hidup dalam “enam hari”:

Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolong pun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. As Sajdah, 32:4)

Kata “hari” dalam ayat itu, atau yawm dalam bahasa Arab, juga berarti selang waktu yang panjang. Dengan kata lain, Al Qur’an menyebutkan bahwa kehidupan diciptakan dalam beberapa masa yang berbeda, tidak sekaligus. Penemuan di bidang geologi di zaman modern memberikan gambaran yang menegaskan hal ini.


13 BAGAIMANAKAH TEORI EVOLUSI DIRUNTUHKAN OLEH STRUKTUR YANG KOMPLEKS PADA MAKHLUK PALING PURBA?

Dalam catatan fosil, makhluk hidup membentuk untaian atau rantai. Bila kita perhatikan rantai ini dari makhluk paling purba sampai yang paling muda, tampaklah bahwa makhluk hidup muncul dalam bentuk mikroorganisme, hewan laut tak bertulang belakang (invertebrata), ikan, amfibi, reptil, unggas, dan mamalia. Pendukung teori evolusi membahas rantai ini dengan penuh praduga, sambil berupaya menyajikannya sebagai bukti teori evolusi. Mereka menyatakan bahwa makhluk hidup berkembang dari bentuk sederhana menuju bentuk yang lebih kompleks, dan selama proses ini berlangsung, beraneka ragam makhluk hidup pun tercipta. Misalnya, para evolusionis mengemukakan, fakta tidak ditemukannya fosil manusia pada pengkajian terhadap lapisan fosil berusia 300 juta tahun merupakan salah satu bukti kebenaran evolusi. Profesor Aykut Kence, seorang evolusionis Turki, berkata:

Anda ingin menggugurkan teori evolusi? Jika demikian, pergilah dan cari beberapa fosil manusia dari zaman Kambrium! Siapa pun yang berhasil menemukannya akan meruntuhkan teori evolusi, bahkan memenangkan hadiah Nobel atas penemuannya.56

Perkembangan makhluk hidup dari bentuk sederhana (primitif) ke bentuk rumit (kompleks) adalah pemikiran khayal

Mari kita bayangkan cara berpikir evolusionis yang terdapat dalam kata-kata Profesor Kence. Perkembangan makhluk hidup dari bentuk primitif ke bentuk kompleks adalah praduga evolusionis yang tak benar sedikit pun. Profesor biologi asal Amerika, Frank L. Marsh, yang mengkaji pernyataan kaum evolusionis, dalam bukunya Variation and Fixity in Nature menyatakan makhluk hidup tak dapat disusun dalam sebuah urutan yang senantiasa bersambung tanpa putus dari bentuk sederhana ke bentuk rumit.57

Dalam hal ini, pernyataan evolusionis sebenarnya dapat diruntuhkan oleh fakta kemunculan mendadak dari hampir seluruh filum hewan yang dikenal sekarang di Zaman Kambrium. Bahkan, semua hewan yang muncul secara tiba-tiba tersebut sudah memiliki struktur tubuh yang rumit, tidak sederhana – hal ini benar-benar berlawanan dengan asumsi evolusionis.

Trilobita yang termasuk filum Arthropoda, adalah makhluk sangat rumit dengan cangkang keras, memiliki tubuh yang bersendi, dan organ-organ kompleks.. Catatan fosil telah memungkinkan pengkajian yang sangat terperinci terhadap mata trilobita. Mata trilobita terdiri atas beratus-ratus faset kecil, yang masing-masing terdiri atas dua lapisan lensa. Struktur mata ini adalah keajaiban nyata perancangan. David Raup, profesor geologi di Universitas Harvard, Rochester, dan Chicago, berkata, “Trilobita yang hidup 450 juta tahun yang silam telah memiliki rancangan optimal yang di zaman kini memerlukan insinyur optik yang terlatih baik dan imajinatif untuk mengembangkannya.” 58

Sisi menarik lainnya di seputar bahasan ini adalah, lalat di zaman sekarang memiliki struktur mata yang serupa. Dengan kata lain, struktur demikian itu sudah ada selama 520 juta tahun terakhir ini.

Pemandangan luar biasa tentang Zaman Kambrium sangat sedikit diketahui di saat Darwin menulis The Origin of Species. Setelah masa Darwin, barulah orang tahu, bahwa menurut catatan fosil, makhluk hidup muncul dengan seketika di Zaman Kambrium, dan trilobita serta hewan invertebrata lain hadir di muka bumi secara bersamaan. Dalam bukunya, Darwin tak mampu membahas sepenuhnya mengenai hal ini. Namun, ia memang membahas sedikit tentang itu dalam bab berjudul “On the sudden appearance of groups of allied species in the lowest known fossiliferous strata“ (Timbulnya secara serentak kelompok-kelompok spesies yang saling terkait dalam lapisan fosil terendah yang diketahui), ia menulis di sini tentang Zaman Silur (di masa Darwin, zaman ini mencakup pula zaman yang kini kita sebut Kambrium):

Misalnya, saya tidak dapat meragukan bahwa semua trilobita zaman Silur merupakan keturunan yang berasal dari sejenis hewan krustasea (bangsa udang), yang tentunya telah hidup jauh sebelum Zaman Silur, dan mungkin jauh berbeda dari hewan mana pun yang telah dikenal … Karena itu, jika teori saya benar, tak pelak lagi bahwa jauh sebelum lapisan Silur paling bawah terbentuk, waktu yang amat panjang telah berlalu, mungkin sama atau jauh lebih panjang daripada selang waktu antara zaman Silur dengan masa kini; dan selama rentang masa yang sungguh panjang ini, namun belum banyak dikenal, dunia ini dipenuhi makhluk hidup. Saya tak mampu memberi jawaban yang memuaskan atas pertanyaan mengapa kita tidak menemukan bekas-bekas dari zaman purba yang sungguh panjang ini.59

Darwin berkata, “Jika teori saya benar, tak pelak lagi bahwa dunia ini dipenuhi makhluk hidup sebelum Zaman Silur.” Untuk menjawab pertanyaan, mengapa tidak terdapat fosil makhluk-makhluk itu, ia mencoba menjawab di sepanjang bukunya, dengan menggunakan alasan “catatan fosil yang sangat terbatas”. Tapi kini, catatan fosil sudah lengkap, dan menunjukkan bahwa makhluk Zaman Kambrium tak memiliki nenek moyang. Artinya, kita harus menolak kalimat Darwin yang diawali dengan “… jika teori saya benar”. Hipotesa Darwin tidak absah; karena itu, teorinya salah.

Makhluk hidup tidak berkembang dari bentuk sederhana ke bentuk yang kompleks. Pada saat pertama kali muncul, makhluk hidup sudah teramat kompleks. Contoh lain dari hal ini adalah ikan hiu, yang menurut catatan fosil sudah ada sejak sekitar 4000 juta tahun yang lalu. Hewan ini memiliki berbagai ciri istimewa yang tidak dimiliki hewan lain yang tercipta jutaan tahun setelahnya, misalnya pertumbuhan gigi (regenerasi) setelah gigi yang lama tanggal. Contoh lainnya adalah kemiripan yang mengejutkan antara mata mamalia dan gurita yang telah hidup di Bumi berjuta-juta tahun sebelum mamalia.

Contoh-contoh tersebut memperjelas bahwa spesies makhluk hidup tidak dapat disusun berurutan secara baik dari bentuk primitif ke bentuk kompleks.

Fakta itu juga ditampilkan oleh hasil penelitian terhadap segi bentuk, fungsi, dan genetika makhluk hidup. Misalnya, bila kita cermati catatan fosil pada tingkat terendah, dilihat dari segi bentuk dan ukuran, tampak bahwa banyak makhluk (misalnya dinosaurus) yang berukuran jauh lebih besar daripada yang muncul kemudian.

Demikian juga bila kita cermati dari segi fungsional makhluk hidup. Pada perkembangan struktur, telinga adalah contoh yang meruntuhkan pendapat “makhluk hidup berkembang dari bentuk primitif menuju kompleks”. Hewan amfibi memiliki rongga telinga-tengah. Akan tetapi reptil, yang muncul sesudah amfibi, mempunyai sistem yang jauh lebih sederhana. Pada reptil, sistem ini berdasarkan satu tulang kecil saja, tanpa ruang telinga-tengah.

Kajian genetika menunjukkan hasil serupa. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa jumlah kromosom tak ada kaitannya dengan kompleksitas tubuh hewan. Misalnya, manusia memiliki 46 buah kromosom, kopepoda memiliki 6 buah, dan radiolaria (hewan yang berukuran mikroskopis) memiliki tepat 800 buah.

Makhluk hidup diciptakan pada saat yang

paling “sesuai” baginya

Penelitian catatan fosil sesungguhnya menunjukkan, makhluk hidup muncul di masa yang paling cocok baginya. Tuhan telah menciptakan makhluk hidup secara luar biasa. Makhluk hidup diciptakan tepat sesuai dengan keadaan yang akan dihadapinya saat muncul di Bumi.

Mari kita lihat contoh berikut ini: Bumi di kala fosil bakteri tertua muncul, yakni sekitar 3,5 miliar tahun yang silam. Kondisi suhu dan atmosfer waktu itu sama sekali tidak cocok untuk mendukung kehidupan makhluk berstruktur kompleks ataupun manusia. Demikian juga zaman Kambrium, yang menurut Kence, apabila ditemukan fosil manusia pada masa itu, teori evolusi akan runtuh. Periode ini, sekitar 530 juta tahun silam, benar-benar tak cocok bagi manusia. (Saat itu tak ada hewan di darat).

Keadaan serupa juga tampak pada hampir seluruh zaman sesudahnya. Penelitian catatan fosil menunjukkan bahwa kondisi yang dapat mendukung kehidupan manusia baru tercapai beberapa juta tahun yang silam. Hal yang sama ini berlaku pula pada seluruh makhluk hidup lainnya. Setiap kelompok makhluk hidup muncul apabila kondisi yang mendukung bagi kehidupannya telah tercapai, dengan kata lain, “bila waktunya sudah tepat”.

Kaum evolusionis menentang fakta ini sekuat tenaga. Mereka mengatakan bahwa kondisi pendukung itu sendirilah yang telah memunculkan makhluk hidup. Padahal, terciptanya “kondisi pendukung” hanyalah tanda bahwa “saat yang tepat telah tiba”. Makhluk hidup hanya dapat muncul melalui sebuah campur tangan yang memiliki kesadaran – dengan kata lain, melalui penciptaan oleh kekuatan hebat di luar alam.

Karena itu, munculnya makhluk hidup secara bertahap bukanlah bukti evolusi, melainkan bukti kebijaksanaan dan pengetahuan Tuhan yang tak terhingga, Yang menciptakan makhluk hidup. Setiap kelompok makhluk hidup diciptakan untuk menyiapkan kondisi yang sesuai bagi kemunculan kelompok makhluk hidup berikutnya. Dan bagi kita, keseimbangan ekologis dengan seluruh makhluk hidup disiapkan terlebih dahulu dalam rentang waktu yang cukup panjang.

Di lain pihak, kita harus ingat bahwa periode panjang itu hanya dirasakan “panjang” oleh kita. Bagi Tuhan, itu hanyalah “sesaat” saja. Konsep waktu hanya berlaku bagi makhluk, bukan Pencipta. Tuhan, Pencipta waktu itu sendiri, tidaklah terikat oleh waktu. (Lihat lebih jauh dalam buku Harun Yahya: Timelessness and the Reality of Fate)

Jika kaum evolusionis hendak menunjukkan bahwa satu spesies berubah menjadi spesies lain, tak ada gunanya berkata bahwa makhluk hidup muncul di Bumi selangkah demi selangkah. Bukti yang harus mereka kemukakan adalah fosil makhluk peralihan yang menghubungkan antarspesies makhluk hidup yang berbeda ini. Teori yang menyatakan bahwa invertebrata berubah menjadi ikan, ikan menjadi reptil, reptil menjadi burung dan mamalia, harus didukung fosil sebagai buktinya. Darwin sadar akan hal itu dan menuliskan bahwa fosil semacam ini harus ditemukan dalam jumlah tak terhitung banyaknya, walaupun sejauh ini tidak pernah ditemukan satu pun. Selama 150 tahun setelah teori Darwin diajukan, fosil makhluk peralihan belum pernah ditemukan. Seperti yang diakui oleh Derek W. Ager, seorang evolusionis ahli paleontologi, catatan fosil menunjukkan “bukan evolusi bertahap, melainkan sebuah ledakan tiba-tiba sekelompok makhluk hidup di atas kepunahan kelompok yang lain.”60

Sebagai kesimpulan, sejarah kehidupan menunjukkan bahwa makhluk hidup muncul bukan sebagai hasil peristiwa kebetulan, melainkan diciptakan tahap demi tahap, dalam periode yang amat panjang. Ini amat sesuai dengan keterangan tentang penciptaan dalam Al Qur’an, yang di dalamnya Tuhan berfirman bahwa Dia menciptakan alam semesta dan semua makhluk hidup dalam “enam hari”:

Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolong pun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. As Sajdah, 32:4)

Kata “hari” dalam ayat itu, atau yawm dalam bahasa Arab, juga berarti selang waktu yang panjang. Dengan kata lain, Al Qur’an menyebutkan bahwa kehidupan diciptakan dalam beberapa masa yang berbeda, tidak sekaligus. Penemuan di bidang geologi di zaman modern memberikan gambaran yang menegaskan hal ini.


 
Copyright 2009 DIMENSI RUANG DAN WAKTU. Powered by Blogger
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Wordpress by Wpthemesfree